Backpacker dari Solo ke Bandung

Bukan orang Solo, saya orang Makassar yang sedang melakukan perjalanan lintas Jawa, dari Jawa Timur ke Barat. Solo adalah salah satu kota persinggahan saya. Empat hari yang lalu saya melanjutkan perjalanan ke Jawa Barat, kota tujuan saya adalah Bandung.

Ngopi di kereta Lodaya Pagi ke Bandung

Dari Solo saya mengendarai Kereta Api Lodaya Pagi, berangkat jam 08.30 pagi dari Stasiun Balapan Solo. Stasiun ini kecil mungil, teratur dan adem. Harga tiket eksekutif adalah Rp. 195.000. Saya duduk di kursi 8B, dimana saya menggobloki diri sendiri karena lupa minta tempat duduk dekat jendela.

Sampai di Stasiun Bandung jam 17.30 sore di hari yang sama. Tujuan saya adalah penginapan De Hoff Atria yang infonya saya dapatkan di internet. Setelah tanya sana sini saya tahu kalau ada angkot jurusan stasiun menuju penginapan, namanya jurusan Sukajadi. Maka lompatlah saya ke angkot tersebut sambil nitip pesa ke pak sopir, turunin saya di jalan Rajiman.

Tidak sampai 30 menit sampailah saya di penginapan. Namanya Guest House De Hoff Atria, tarif Rp 100.000 per malam. Isi kamarnya adalah tempat tidur, bantal, kasur, seprei, selimut, meja, kursi dan kamar mandi luar. Sejatinya ini adalah kos-kos an yang setelah nanya-nanya harga sebulannya adalah Rp. 800.000.

Lokasi penginapan berada di jalan Westhoff No. 18, dekat dengan jalan Doktor Rajiman dan Doktor Otten. Lokasinya tidak jauh dari Ciwalk, Paris Van Java, Istana Dieng, jalur angkot banyak. Tempat makan juga banyak. Dengan harga Rp.100.000 itu saya rasa cocok dengan budget backpacker, meskipun masih agak mahal jika dibandingkan penginapan sejenis di Yogyakarta, Solo dan Jakarta. Bandung setahu saya masih belum bersahabat dengan kantong para backpacker.

Tidak jauh dari penginapan saya, ada hotel Melati namanya Hotel Catellya, di jalan Doktor Rum, dekat Jalan Doktor Rajiman, ancer-ancernya dari jalan Westhoff menyebrangi jalan Rajiman (perempatan westhoff – rajiman), terus jalan sampai mentok, disitu kelihatan papan namanya, Hotel Catellya, rate kamar standarnya Rp.95.000. Dari mas-mas yang jualan soto saya tahu kalau bulan lalu harganya masih Rp. 75.000 per malam.

Hari pertama di Bandung, saya berjalan kaki 1,6 km ke arah utara menuju PVJ (Paris Van Java). Mall ini sering saya dengar via televisi saja, jadi kesempatan datang kesana tidak saya sia-siakan, meskipun sebenarnya saya agak sungkan berwisata ke mall. Memang unik mall satu ini. Tingkatnya selain ke atas juga ke bawah. Canggih!

Di PVJ saya makan di cafe Heritage Indonesia, semacam restoran yang jualan masakan asli Indonesia, pesanan saya adalah Nasi Gelethuk (lupa tulisannya, pokoknya mirip-mirip itu), harganya gak sampe Rp. 30.000. Di sebrang restoran ini ada warkop namanya Warung Kopi Oyn, kelihatannya enak, sayang tempatnya kecil jadi saya tidak sempat mencicipi kopinya.

Paris Van Java terlihat jelek dari foto ini

Saya tidak punya foto disini, karena jalan sendiri dan saya lumayan malu minta difotokan. Sudah kumisan gini minta di foto. Aih, apa kata dunia! *makan tuh maluuu!

Pulang dari PVJ saya melewati arus lalu lintas yang lumayan padat. Di salah satu trafik light, di depan saya ada pengendara yang hampir berantem. Di penyeberangan itu juga saya sempat berhenti jalan, istirahat sejenak sambil melihat-lihat dua pemandangan aneh di depan saya.

Pertama, ada pemain topeng monyet yang atraksi didepan pengendara motor dan mobil, pas di zebra cross saat lampu lalulintas berwarna merah. Barangkali saya termasuk orang yang tidak senang melihat monyet dimain-mainin begitu, dipaksa pake payung, dipaksa naik sepeda,, di depan puluhan motor lagi. Sadis. Kalo ketabrak gimana?

Pemandangan kedua adalah pengamen waria. Di kota saya tidak ada waria yang ngamen dijalan. Dengan pakaian mirip seksi, waria-waria ini joget dan nyanyi disamping mobil-mobil. Menurut saya ini sangat aneh. Apakah ada pengendara yang senang melihat waria nyanyi dijalanan? Berpakaian seksi pulak. Kalau ini bisnis, maka bisnis yang dikerjakan para waria ini tidak memperdulikan costumer. Jadi barangkali ini adalah masalah eksistensi. Keinginan menunjukkan diri kepada orang-orang, memperlihatkan jati diri sambil mencari makan.

Topeng monyet di tengah jalan, Bandung

Capek jongkok dipinggir jalan saya pun beranjak, sudah sore, sebaiknya sampai penginapan sebelum maghrib.

Hari kedua di Bandung, saya lagi-lagi berjalan kaki. Tujuan saya lagi-lagi Mall, kali ini Cihampelas Walk atau Ciwalk. Jarak sekitar 2,5 km menggunakan angkot dan 1,5 kilo dengan jalan kaki. Menggunakan google maps dan teknologi bertanya saya berjalan kaki ke Ciwalk, dikurangi selisih waktu karena tersesat sekitar 20 menit, total waktu yang diperlukan adalah satu jam.

Menurut saya Ciwalk lebih cantik dari PVJ. Pengunjung disini lebih banyak anak muda dan remaja. Seperti PVJ, di depan Ciwalk juga ada tempat duduk bertingkat, enak buat foto-foto disini.

Hari ketiga di Bandung saya dijemput teman, disuruh nginap di kontrakannya. Nanti saya lanjut cerita tentang Rumah Makan Punclut dan RM Bancakan.

***
Ingin berteman atau menghubungi saya langsung? Follow me di twitter @ansharas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *